Berita / Berita Terbaru / Detail

Hiperkolesterolemia

Berita Terbaru 28 Januari 2019 08:21:44 WIB RSUD dr. Soedirman Kebumen dibaca 88 kali



Hiperkolesterolemia
adalah kondisi berbahaya yang ditandai dengan tingginya kadar kolesterol dalam
darah. Bila tidak ditangani, kolesterol dapat menumpuk serta mempersempit
pembuluh darah. Akibatnya, penderita berisiko terserang penyakit jantung
koroner.





Kolesterol merupakan
zat lemak serupa lilin yang dihasilkan oleh hati, dan juga bisa berasal dari
makanan. Tubuh manusia memerlukan kolesterol untuk membentuk sel-sel sehat,
memproduksi sejumlah hormon, dan menghasilkan vitamin D. Kolesterol juga
diperlukan untuk menghasilkan zat yang membantu proses pencernaan lemak.



Kolesterol di dalam
darah terikat pada protein. Kombinasi protein dan kolesterol ini disebut dengan
lipoprotein. Jenis lipoprotein meliputi:




  • Low-density lipoprotein (LDL). LDL berfungsi membawa
    kolesterol ke seluruh tubuh melalui arteri. Bila kadarnya terlalu tinggi,
    LDL akan menumpuk di dinding pembuluh darah, dan membuat pembuluh darah
    menjadi keras dan sempit. LDL dikenal sebagai ‘kolesterol jahat’.
  • High-density lipoprotein (HDL). HDL berfungsi mengembalikan
    kolesterol berlebih ke hati, untuk dikeluarkan dari tubuh. Oleh karena
    itu, HDL dikenal sebagai ‘kolesterol baik’.

Gejala
Hiperkolesterolemia

Hiperkolesterolemia
tidak menunjukkan gejala apa pun. Pada umumnya, seseorang tidak menyadari kadar
kolesterol dalam tubuhnya tinggi sampai muncul komplikasi, seperti serangan
jantung atau
stroke. Oleh karena itu, penting untuk
melakukan skrining kolesterol sejak usia dini.



Para
ahli menyarankan skrining dilakukan minimal satu kali pada anak usia 9-11
tahun, dan pada remaja usia 17-21 tahun. Sedangkan untuk orang berusia di atas
21 tahun, skrining sebaiknya dilakukan tiap 4-6 tahun sekali. Pada penderita
diabetes, serta orang yang memiliki riwayat hiperkolesterolemia dan serangan
jantung dalam keluarga, dokter akan menyarankan skrining lebih rutin.
Konsultasikan dengan dokter mengenai frekuensi skrining yang perlu dilakukan.



Penyebab
dan Faktor Risiko Hiperkolesterolemia



Hiperkolesterolemia
umumnya disebabkan oleh kombinasi dari faktor genetik dan gaya hidup yang tidak
sehat. Di antaranya adalah:

  • Riwayat keluarga. Meskipun tergolong jarang,
    seseorang dapat mengalami hiperkolesterolemia karena faktor genetik yang
    diturunkan dari orang tua dengan penyakit yang sama. Kondisi yang disebut familial
    hypercholesterolemia
    ini dipicu oleh mutasi sejumlah gen, seperti
    APOB, LDLR, LDLRAP1, dan PCSK9.
  • Pola makan yang buruk. Konsumsi makanan tinggi kolesterol, seperti daging merah dan
    produk susu hewani, dapat meningkatkan kolesterol total. Produk makanan
    hewani dengan kandungan lemak jenuh dan makanan ringan kaya lemak trans,
    seperti kue atau biskuit, juga bisa meningkatkan kadar kolesterol.
  • Obesitas. Berat badan berlebih dengan indeks massa tubuh (IMT) 30 atau lebih, memperbesar
    risiko hiperkolesterolemia.
  • Diabetes. Gula darah tinggi bisa meningkatkan LDL dan
    menurunkan HDL, serta merusak dinding pembuluh darah.
  • Lingkar pinggang besar. Hiperkolesterolemia lebih
    berisiko terjadi pada pria dengan lingkar pinggang di atas 102 cm, dan
    wanita dengan lingkar perut di atas 89 cm.
  • Merokok. Selain dapat menurunkan kadar HDL, rokok juga
    merusak dinding pembuluh darah, sehingga menjadi tempat penumpukan lemak.
  • Kurang olahraga. Olahraga membantu tubuh
    meningkatkan jumlah HDL.



Diagnosis Hiperkolesterolemia



Untuk
mendiagnosis hiperkolesterolemia, dokter akan mengambil sampel darah pasien
guna diteliti di laboratorium. Melalui sampel darah tersebut, dokter dapat
mengetahui kadar kolesterol total dalam darah pasien.

Untuk
mendapatkan hasil yang akurat, dokter akan meminta pasien berpuasa 9-12 jam
sebelum pengambilan sampel darah. Idealnya, kadar kolesterol normal pada orang
dewasa adalah:

  • LDL: 70-130 mg/dL.
  • HDL: lebih dari 40-60 mg/dL.
  • Trigliserida: 10-150 mg/dL.
  • Kolesterol total: kurang
    dari 200 mg/dL.

Kadar
kolesterol yang melebihi kisaran tersebut, dapat meningkatkan risiko seseorang
terserang
penyakit jantung dan stroke.

Bila
hasil pemeriksaan darah menunjukkan kadar kolesterol di luar kisaran di atas,
dokter dapat menjalankan pemeriksaan kadar gula darah guna mendeteksi
tanda-tanda diabetes. Dokter juga dapat melakukan tes fungsi tiroid untuk
mengetahui apakah pasien mengalami
hipotiroidisme atau kekurangan hormon tiroid. Hormon tiroid diperlukan
tubuh untuk membuang LDL. Dengan kata lain, bila kadar hormon tiroid dalam
tubuh rendah, LDL akan menumpuk dalam darah.


Pengobatan
Hiperkolesterolemia



Langkah
pertama untuk menangani hiperkolesterolemia adalah perubahan pola makan menjadi
lebih sehat, dan lebih teratur berolahraga. Bila langkah tersebut telah
dijalani namun kadar kolesterol masih tinggi, dokter akan meresepkan
obat-obatan yang tergantung kepada usia dan kondisi kesehatan pasien.

Beberapa
contoh obat untuk mengatasi hiperkolesterolemia adalah:

  • Statin. Obat ini bekerja dengan
    cara menghambat zat yang dibutuhkan hati untuk memproduksi kolesterol. Hal
    tersebut memicu hati mengambil kolesterol dari darah. Statin juga membantu
    tubuh menyerap kolesterol dari timbunan kolesterol di dinding pembuluh
    darah. Contoh obat golongan statin antara lain adalah atorvastatin,
    rosuvastatin, dan simvastatin.
  • Resin pengikat asam empedu. Obat ini
    menurunkan kadar kolesterol secara tidak langsung dengan mengikat asam
    empedu. Hal tersebut menyebabkan hati menggunakan kolesterol yang berlebih
    untuk membuat lebih banyak lagi asam empedu, sehingga kadar kolesterol
    dalam darah menurun. Contoh obat ini adalah
    cholestyramine.
  • Penghambat penyerapan kolesterol. Obat ini bekerja dengan
    membatasi penyerapan kolesterol oleh usus kecil. Dengan begitu, usus kecil
    tidak dapat melepaskan kolesterol ke darah dalam jumlah besar. Contoh obat
    ini adalah ezetimibe.
  • Obat suntik. Alirocumab dan evolocumab
    tergolong obat jenis baru untuk menangani hiperkolesterolemia. Jenis obat
    ini membantu hati menyerap kolesterol LDL lebih banyak, sehingga
    menurunkan kolesterol total dalam darah. Dokter umumnya meresepkan obat
    ini pada pasien dengan kelainan bawaan, yang menyebabkan kadar LDL tinggi.

Pada pasien dengan
kadar trigliserida tinggi, dokter akan meresepkan obat, seperti:

  • Fibrate. Obat ini menurunkan trigliserida dengan
    mengurangi produksi VLDL (very-low density lipoprotein), yaitu
    jenis kolesterol yang banyak mengandung trigliserida. Fibrate juga
    mempercepat pembuangan trigliserida dari darah. Contoh obat ini adalah
    fenofibrate dan gemfibrozil.
  • Niacin. Niacin menurunkan trigliserida dengan cara membatasi
    hati dalam memproduksi VLDL dan LDL. Namun karena niacin dihubungkan
    dengan stroke dan kerusakan hati, dokter hanya akan meresepkan obat ini
    untuk pasien yang tidak dapat menggunakan statin.
  • Suplemen asam lemak omega-3. Suplemen
    ini juga bisa bantu menurunkan kadar trigliserida.


Pencegahan
Hiperkolesterolemia

Untuk
mencegah kadar kolesterol tinggi, sangat penting untuk menjalani gaya hidup
sehat, seperti:

  • Berhenti merokok. Rokok
    merusak pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak di dalam pembuluh
    darah.
  • Mengonsumsi makanan sehat.
    Konsumsilah
    makanan rendah garam, serta
    perbanyak asupan sayuran, buah, dan ikan. Selain itu, batasi konsumsi
    makanan sumber kolesterol.
  • Meningkatkan aktivitas fisik.
    Berolahraga secara rutin minimal 30 menit sehari dapat menurunkan kadar
    kolesterol.
  • Mengurangi kelebihan berat badan. Berat
    badan berlebih dapat membuat kadar kolesterol tinggi.

Komplikasi
Hiperkolesterolemia

Bila
tidak ditangani, hiperkolesterolemia dapat menyebabkan
aterosklerosis, yaitu menumpuknya kolesterol di dinding pembuluh darah.
Penumpukan tersebut akan menyumbat aliran darah dan memicu komplikasi, seperti:

  • Penyakit jantung koroner. Sumbatan
    pada pembuluh darah yang menyuplai darah ke jantung akan menimbulkan
    gejala penyakit jantung koroner, misalnya nyeri dada (
    angina).
  • Stroke. Stroke terjadi bila aliran
    darah ke bagian otak penderita tersumbat oleh gumpalan darah.
  • Serangan jantung. Bila
    tumpukan kolesterol (plak) pada pembuluh darah pecah, bekuan darah dapat
    terbentuk di lokasi plak. Bekuan darah ini akan menyumbat aliran darah ke
    jantung, dan memicu serangan jantung.



Sumber: Dikutip dari berbagai sumber