Berita / Berita Terbaru / Detail

Mengetahui Penyebab Anak Obesitas Dan Cara Mengatasinya

Berita Terbaru 01 Mei 2018 08:30:04 WIB RSUD dibaca 69 kali

Disadari atau tidak, risiko obesitas pada anak menjadi
semakin tinggi dengan meningkatnya akses pada makanan cepat saji maupun makanan
bernutrisi buruk (junk food). Tidak hanya faktor makanan, masih ada faktor lain
yang bisa membuat anak menderita obesitas serta berisiko menyebabkan gangguan
kesehatan. Orang tua, ketahui fakta dan penyebab obesitas pada anak di sini.

Obesitas pada anak-anak terjadi ketika berat badan
mereka jauh melebihi berat normal berdasarkan tinggi badan. Kondisi ini
berbahaya karena membuat mereka berisiko tinggi mengidap penyakit kronis dan
mengalami stres.

Orang tua patut mengingat bahwa obesitas berbeda
dengan sekadar kelebihan berat badan. Penentuan diagnosis anak obesitas perlu
dilakukan dengan sangat hati-hati. Dokter akan mengukur berat dan tinggi badan
anak, serta mengalkulasi Indeks Massa Tubuh/IMT (Body Mass Index/BMI) anak.
Hasil ini akan dibandingkan dengan nilai standar/normal.

Faktor Pemicu Obesitas

Banyak faktor yang dapat menyebabkan obesitas.
Beberapa di antaranya saling berkaitan, yaitu:

  • Gaya
    hidup. Pola makan tidak sehat dengan kalori yang berlebihan dan tidak diiringi
    dengan aktif bergerak. Mengonsumsi makanan yang kaya kandungan lemak jenuh dan
    gula (seperti eskrim, coklat, permen), kelompok makanan cepat atau siap saji
    (fast food), serta minuman ringan diduga menjadi penyebab utama obesitas. Pola
    makan yang disertai dengan kebiasaan duduk terlalu lama di depan TV atau di
    depan layar komputer ini menjadi penyebab utama obesitas di antara generasi
    muda.
  • Faktor
    genetis. Meski tidak mutlak, anak dengan anggota keluarga atau orang tua yang
    mengidap obesitas lebih berisiko mengidap obesitas. Selain bersifat keturunan,
    juga bisa diakibatkan oleh pola makan dan gaya hidup anak yang serupa dengan
    orangtuanya.

  • Faktor
    psikologis. Obesitas kadang-kadang dialami oleh anak atau remaja yang
    menjadikan makanan sebagai pelarian dari rasa frustrasinya atau stres
    psikologis terhadap pelajaran di sekolah, kebosanan, masalah, dan bentuk
    emosional lainnya.

Selain faktor-faktor di atas, praktik pemberian makan
bayi dan anak yang tidak diperhatikan atau masih tradisional, dengan pilihan
makanan yang mengandung sedikit nutrisi baik, juga menjadi faktor kontributor
lain.

Komplikasi Akibat Obesitas

Tidak hanya pada kesehatan, obesitas dapat berdampak
pada hidup anak secara keseluruhan.

Dampak secara fisik

Berikut ini adalah kondisi-kondisi kesehatan yang
dapat dipicu oleh obesitas:

  • Tekanan
    darah tinggi dan kolesterol tinggi. Keduanya berisiko menimbulkan plak yang
    menyebabkan penyempitan pembuluh arteri pada anak, sehingga dapat memicu stroke
    dan serangan jantung di kemudian hari.
  • Diabetes
    tipe 2. Gaya hidup yang kurang aktif bergerak, ditambah dengan kondisi
    obesitas, dapat memicu risiko diabetes tipe 2 yang memengaruhi metabolisme
    glukosa dalam tubuh Si Kecil.
  • Penyakit
    pernapasan. Bobot tubuh anak yang berlebihan bisa mengakibatkan saluran pernapasan
    anak menyempit, membengkak, dan membuatnya kesulitan bernapas sehingga berisiko
    menderita penyakit pernapasan seperti asma.
  • Gangguan
    pola tidur. Akibat obesitas, pernapasan anak bisa menjadi tidak normal,
    misalnya mendengkur saat sedang tidur. Kualitas istirahat atau tidur anak
    tersebut dapat menurun akibat gangguan pada pernapasannya. Hal ini dapat
    menyebabkan prestasi belajar di sekolah menurun karena anak sulit konsentrasi
    di kelas dan sering mengantuk di siang hari.
  • Penyakit
    perlemakan hati non-alkoholik (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD).
    Obesitas dapat menyebabkan penumpukan lemak yang membahayakan organ hati.
  • Gangguan
    pada tulang yang menyangga kelebihan berat pada tubuh.

Dampak secara sosial dan emosional

  • Gangguan
    pada perilaku. Anak yang menderita obesitas cenderung lebih sulit untuk
    bersosialisasi dan lebih mudah khawatir mengenai pendapat orang lain terhadap
    berat badannya.
  • Tidak
    percaya diri. Tubuh dengan berat berlebihan kerap membuat seseorang menjadi
    tidak percaya diri dalam pergaulan
  • Depresi.
    Rasa tidak nyaman dan percaya diri membuat anak rentan mengalami depresi.

Bagaimana Mendiagnosis Obesitas?

Langkah paling awal jika Anda khawatir bahwa anak Anda
mengidap obesitas adalah dengan memeriksakannya ke dokter agar dia mendapatkan
diagnosis dan penanganan yang tepat.

Sebelum mengantar Si Kecil ke dokter, persiapkanlah
hal-hal berikut ini:

  • Tulis
    keluhan, perilaku, aktivitas, dan kebiasaan Si Kecil yang dapat menyebabkan
    obesitas.
  • Catat
    kelompok makanan apa saja yang dikonsumsi anak dalam sepekan atau makanan yang
    sering ia konsumsi. Bawa juga catatan obat-obatan atau vitamin yang biasa
    dikonsumsinya.
  • Kemungkinan
    dokter juga akan menanyakan aktivitas dan pola makan keluarga sehari-hari,
    serta riwayat anggota keluarga yang mengidap obesitas.

Indeks Massa Tubuh (IMT)

IMT adalah pengukuran yang umum digunakan untuk
menentukan apakah berat badan seseorang dapat diklasifikasikan sebagai di bawah
berat normal, berberat badan normal, kelebihan berat badan, atau obesitas. IMT
diukur dengan rumus berat (dalam kilogram) dibagi tinggi badan kuadrat (dalam
meter2).

Contohnya seorang anak laki-laki berusia 8 tahun
dengan berat badan 50 kilogram, dan tinggi badan 1,2 meter, maka IMT-nya
adalah:

 50 kg/(1,20 m)2 = 50/1.44 ? 34,7 kg/m2

 Pengukuran berdasarkan IMT anak Anda akan dibandingkan
berdasarkan IMT anak-anak lain dengan jenis kelamin, usia dan tinggi badan yang
sama.

Selain mengukur IMT anak, dokter akan memeriksa pola
makan, tingkat aktivitas anak, riwayat obesitas dalam keluarga, dan masalah
kesehatan anak yang lain.

Pemeriksaan kadar gula darah, kolesterol, keseimbangan
hormon, kadar vitamin D, dan pemeriksaan terkait kondisi obesitas lain juga
bisa dilakukan. Perhatikan bahwa umumnya tes darah ini mengharuskan anak untuk
berpuasa selama 8-12 jam sebelumnya.

Mendampingi Anak dengan Obesitas

Kunci menangani anak dengan obesitas bertumpu kepada
dua hal. Pertama adalah memastikan bahwa anak telah menerapkan pola makan sehat
dan mengajaknya beraktivitas fisik lebih teratur, sehingga berat badannya
turun. Namun pengurangan berat badan harus dilakukan dalam jangka panjang
secara bertahap dan disarankan ditanyakan terlebih dahulu kepada dokter anak.
Orang tua wajib mengetahui bahwa dalam proses ini, bobot tubuh anak sebaiknya
hanya berkurang 0,5-0,9 kilogram dalam satu bulan untuk kasus obesitas yang
tidak parah, dan satu minggu untuk kasus parah, dengan panduan sebagai berikut
ini:

Bicara dari hati ke hati

Berat badan adalah topik yang sensitif dibicarakan,
terutama pada anak yang beranjak remaja. Namun tidak membicarakannya sama
sekali justru akan menempatkan si anak pada kondisi yang membahayakan. Tidak
hanya bagi kesehatan, tapi juga secara psikologis. Berikut ini adalah beberapa
hal yang sebaiknya menjadi perhatian orang tua:

  • Pastikan
    anak tahu bahwa proses mengatur pola hidup demi penurunan berat badan akan
    menjadi proses yang dia akan jalani bersama Anda. Hal ini demi kebaikan dan
    tujuan jangka panjang yang lebih sehat.
  • Ajak
    anak untuk terbuka juga tentang masalah-masalah yang tidak menyangkut makanan,
    tapi berpotensi untuk menjadi penyebab obesitas.
  • Selalu
    berikan pujian dan tunjukkan dukungan tiap melihat usaha dan
    keberhasilan-keberhasilan kecil yang dicapai oleh anak.

Pola makan sehat

  • Sebagai
    orang tua, Anda berperan penting dalam menentukan apa saja dan bagaimana anak
    mengonsumsi makanannya. Upayakan untuk mengganti sebanyak mungkin makanan
    kemasan dengan buah-buah dan sayuran segar.
  • Batasi
    frekuensi makan di luar, terutama di restoran siap saji yang banyak menawarkan
    makanan tinggi gula dan kolesterol.
  • Dengan
    memasak makanan sendiri, Anda lebih bisa mengontrol kandungan kolesterol dan
    kalori dalam makanan yang dikonsumsi anak. Prioritaskan masakan dengan cara
    mengukus atau merebus dibandingkan dengan menggoreng.
  • Hindari
    memberi makanan sebagai hadiah, atau membatasi makanan hukuman.
  • Jadikan
    momen makan bersama keluarga sebagai aktivitas yang terfokus dan menyenangkan.
    Makan sambil menonton TV dapat membuat anak kehilangan kontrol atas apa dan
    bagaimana mereka mengonsumsi makanan.
  • Lebih
    baik mengubah pola makan sehat dalam jangka panjang daripada seketika membatasi
    semua makanan berkalori tinggi. Perubahan pola makan yang dipaksakan secara
    drastis cenderung tidak bertahan lama.
  • Bagi
    orang tua, jadilah panutan bagi Anak untuk hidup sehat agar ia dapat mengikuti
    perilaku dan gaya hidup sehat dari Anda.

Mengajak anak beraktivitas

  • Aktivitas
    fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat. Akan lebih mudah untuk
    menyarankan aktivitas fisik yang disenanginya, seperti bermain lompat tali,
    bersepeda atau hobi dan olahraga lain yang ia senangi.
  • Batasi
    waktu anak untuk menonton TV atau duduk bermain game di smartphone, tablet,
    atau komputer, menjadi tidak lebih dari satu jam setiap hari untuk anak usia
    pra-sekolah.
  • Untuk
    anak yang lebih dewasa, ingatkan dia untuk mengambil jeda di sela-sela waktu di
    mana ia harus duduk belajar atau mengerjakan tugas di depan komputer dengan
    berolahraga sejenak. Ia bisa bermain basket atau sepak bola sebelum kembali
    melanjutkan belajar.

Mencegah Obesitas pada Anak

Obesitas pada anak dapat dicegah. Berikut ini adalah
hal-hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membuat tubuh anak tetap sehat dan
terhindar dari obesitas:

  • Jadikan
    gaya hidup sehat sebagai kebiasaan di dalam keluarga. Jadwalkan berenang
    bersama tiap dua pekan sekali, piknik di taman, dan memasak makanan sehat
    bersama-sama.
  • Berikan
    contoh dengan mempraktikkan gaya hidup sehat secara pribadi, misalnya dengan
    tidak merokok, memilih makanan sehat, dan berolahraga teratur.
  • Periksakan
    diri secara berkala ke dokter untuk menjalani penghitungan IMT guna mendeteksi
    risiko obesitas, terutama jika anak Anda terlihat mengalami kelebihan berat
    badan.
  • Pastikan
    anak Anda memiliki waktu tidur yang cukup dan berkualitas. Kurang
    tidurmerupakan faktor utama penyebab obesitas dan masalah kesehatan lainnya.
    Menempatkan TV di luar kamar tidur dapat membuat anak tidur lebih nyaman dan
    cepat. Berikut ini durasi tidur yang disarankan untuk tiap usia:

12-18 tahun: 8,5 jam per hari.

5-12 tahun: 10 hingga 11 jam per hari.

3-5 tahun: 11 hingga 13 jam per hari.

1-3 tahun: 12 hingga 14 jam per hari.

  • Ingatkan
    anak bahwa Anda mencintainya tanpa syarat, bagaimanapun bentuk tubuh atau
    apapun yang dikatakan orang lain tentangnya. Ini akan membuat anak merasa
    diterima dan mendorongnya untuk terbuka tentang semua masalah yang dihadapinya
    dan berpotensi memicu obesitas.

Mengatasi obesitas pada Anak sangat bergantung dari
peran dan pola asuh orang tua dalam hidupnya. Untuk menumbuhkan motivasi dan
mendorong anak untuk hidup sehat, harus dimulai dari perilaku hidup sehat orang
tua. Anak yang gemuk memang tampak lucu dan menggemaskan, namun dapat menjadi
berbahaya jika kondisi ini menyebabkan penyakit di kemudian hari karena
obesitas tidak ditangani sedini mungkin.

Obesitas anak adalah kondisi medis serius yang bisa
memengaruhi masa kecil dan juga tumbuh kembangnya. Kondisi ini juga bisa
mendorong anak mengalami gangguan kesehatan ke depannya. Pastikan untuk
berkonsultasi pada dokter jika anak Anda memerlukan perhatian khusus terkait
berat badan.

























































































































































Sumber: www.alodokter.com